Surabaya , Nakayoshi.id – Nama Viola dalam anime BanG Dream! YUME∞MITA mendadak menjadi sasaran kemarahan utama di berbagai forum diskusi penggemar. Sikapnya yang terkesan manipulatif, acuh tak acuh, dan dingin terhadap Fuji Miyako membuatnya dengan cepat dinobatkan sebagai karakter paling dibenci musim ini. Namun, memvonis Viola semata-mata sebagai “penjahat murni” adalah bentuk penyederhanaan yang mengabaikan kompleksitas karakternya. Jika dibedah dari sudut pandang psikologi, perilaku berengsek Viola sejatinya merupakan manifestasi dari mekanisme pertahanan diri yang sangat beracun.
Gaya interaksi Viola yang cenderung memanipulasi dan memanfaatkan emosi orang lain bukanlah tindakan yang muncul tanpa alasan. Ada beberapa lapisan kondisi psikologis yang menjelaskan mengapa dia bertindak demikian.

Tindakan Viola yang memperlakukan orang-orang di sekitarnya seperti pion catur juga memperlihatkan ciri dari kecenderungan Machiavellianism. Dalam kondisi psikologis seperti ini, seseorang memandang hubungan antarmanusia secara pragmatis dan strategis semata. Bagi Viola, menunjukkan emosi asli adalah kelemahan yang berbahaya. Memegang kendali atas emosi orang lain, seperti yang dia lakukan pada Miyako, memberinya rasa aman palsu bahwa dialah yang memegang kendali penuh atas situasi di sekitarnya.
Selain itu, orang dengan gaya kelekatan dismissive-avoidant memiliki ketakutan mendalam terhadap keintiman emosional. Kehadiran Miyako yang begitu tulus justru dirasakan sebagai ancaman bagi benteng emosional Viola. Ketika dihadapkan pada ketulusan murni, dorongan refleksnya bukanlah merangkul, melainkan mendorong orang tersebut menjauh secara brutal demi menjaga jarak aman.
Perlakuan kejam Viola pada akhirnya juga menjadi bentuk proyeksi atas rasa benci pada dirinya sendiri. Viola mungkin membenci ketidakmampuannya untuk menjadi sosok yang jujur, sehingga melihat ketulusan transparan milik Miyako justru memicu rasa tidak nyaman yang mendalam. Memahami sisi psikologis ini tentu tidak membenarkan tindakan manipulatif yang dilakukannya. Perilaku berengsek tetaplah tidak bisa dimaklumi. Namun, lewat kacamata psikologi, Viola hadir sebagai contoh nyata bagaimana trauma masa lalu yang dibiarkan membusuk pada akhirnya hanya akan melahirkan sosok baru yang merusak orang-orang di sekitarnya.













