Opini

Popularitas Tak Membuat Rasa Kesepian Lenyap

×

Popularitas Tak Membuat Rasa Kesepian Lenyap

Sebarkan artikel ini

Surabaya , Nakayoshi.id – Uika Hatsuneyang dikenal publik sebagai idol papan atas dari duo Sumika sekaligus gitaris berkedok “Doloris”—menjadi salah satu karakter yang paling menarik untuk dibedah. Di permukaan, Uika tampak seperti figur tanpa cela cantik, berbakat, dan memiliki karier cemerlang. Namun, fenomena Uika membuktikan bahwa popularitas tak membuat seseorang terbebas dari rasa hampa yang menggerogoti jiwanya.

Uika adalah definisi sukses di mata publik. Namun, kilauan panggung dan jutaan sorakan penggemar sering kali datang bersamaan dengan rasa terasing. Popularitas tak membuat dirinya merasa benar-benar dicintai sebagai manusia utuh; dunia idol justru menuntutnya untuk terus tampil sempurna, menjadi produk visual yang menyenangkan publik, dan mengubur kepribadian aslinya. Dalam kondisi kehampaan emosional ini, kenangan masa kecilnya bersama Sakiko menjadi satu-satunya jangkar yang terasa nyata. Sakiko adalah satu-satunya orang yang melihat Uika sebelum nama besarnya dikenal dunia.

Add a heading animation

Ketika Sakiko yang telah jatuh miskin mendatangi Uika untuk membentuk AVE MUJICA, Uika tidak bertindak logis. Dia membuang seluruh keuntungannya sebagai idol papan atas demi bergabung dalam proyek gothic-metal yang gelap dan berisiko tinggi. Uika secara sukarela menyerahkan kendali dirinya kepada Sakiko, bertindak sebagai pengikut setia yang tidak pernah mempertanyakan keputusan sang pemimpin. Keterikatan tanpa batas ini memperlihatkan betapa pencapaian karier dan popularitas tak membuat Uika merasa cukup, hingga ia rela dimanfaatkan demi tetap berada di sisi orang yang ia puja.

Nama panggung “Doloris” yang berarti penderitaan bukanlah sekadar konsep estetik band semata. Karakter Doloris adalah katarsis bagi Uika untuk menumpahkan seluruh tekanan emosional yang tidak bisa ia tunjukkan saat menjadi idol. Di atas panggung AVE MUJICA, Uika bisa mengekspresikan sisi gelapnya. Namun ironisnya, alih-alih menyembuhkan, peran ini justru mempertegas keterasingan dirinya karena ia kini harus mengenakan dua topeng berbeda di hadapan publik.

Sisi paling menyengat dari karakter Uika adalah kesadarannya bahwa Sakiko tidak pernah benar-benar membalas perasaannya secara setara. Bagi Sakiko, Uika dan AVE MUJICA adalah alat komersial demi mengembalikan taraf hidupnya dan membalas dendam pada masa lalu. Uika memahami posisi ini, tetapi ia memilih untuk berpura-pura buta. Keadaan yang bertumpu pada harapan palsu ini menciptakan penderitaan batin yang terus menggerogoti kesehatan mentalnya dari dalam.

Uika Hatsune mengajarkan kita tentang bahaya menggantungkan seluruh nilai diri pada satu sosok di masa lalu. Ketika seseorang rela mengorbankan identitas dan batas dirinya demi mengejar validasi dari orang yang salah, popularitas tak membuat rasa sepi itu sirna—keberhasilan tertinggi di mata dunia sekalipun tidak akan pernah sanggup menyembuhkan rasa kesepian yang teramat dalam.

Add a heading animation